Jogo Suroboyo, Saat 27 Suku dan Etnis Menyatu di Tugu Pahlawan

Surabaya, 4 September 2025 | Matahari sore perlahan condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan pada monumen Tugu Pahlawan yang gagah berdiri di jantung Kota Surabaya. Di bawah monumen bersejarah itu, ribuan orang berkumpul, memenuhi halaman dengan semangat yang sama: menjaga kedamaian, persatuan, dan kebhinekaan.

Hari itu, bukan sekadar upacara biasa. Bukan pula seremoni yang hanya berhenti pada kata-kata. Inilah momentum penting, ketika 27 suku dan etnis yang hidup di Surabaya bersatu dalam ikrar kebangsaan bertajuk “Jogo Suroboyo”.

Warna-warni Kebhinekaan

Dari kejauhan, suasana tampak seperti sebuah festival kebudayaan. Perwakilan suku Jawa, Madura, Batak, Minang, Bugis, Dayak, Bali, hingga Papua hadir dengan pakaian adat khas mereka. Ada yang membawa kain songket, ada pula yang mengenakan ikat kepala tradisional, bahkan beberapa anak kecil tampak malu-malu mengenakan kostum warna-warni sambil melambaikan bendera merah putih.

“Rasanya seperti reuni besar keluarga,” ujar Ratna Dewi, perwakilan suku Bali yang sehari-hari tinggal di kawasan Rungkut. “Kami memang berbeda asal-usul, tetapi Surabaya sudah jadi rumah kami. Hari ini, kami ingin menegaskan: kami semua satu.”

Menggema di Bawah Monumen Pahlawan

Sekitar pukul 16.00 WIB, lantunan ikrar menggema bersama-sama. Suara ratusan orang menyatu, menggetarkan hati siapa pun yang mendengar. Kalimat-kalimat sederhana yang mereka ucapkan terasa penuh makna: menjaga Surabaya dari provokasi, menjunjung tinggi persatuan, dan mengutamakan musyawarah.

Kepala Bakesbangpol Kota Surabaya, Tundjung Iswandaru, yang sejak awal mendampingi FPK menyiapkan deklarasi ini, tampak terharu.

“Ini lebih dari sekadar janji. Ini adalah perwujudan nyata dari semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Surabaya tidak hanya kota pahlawan, tapi juga kota persaudaraan,” ujarnya.

Ikrar yang Tumbuh dari Komitmen Lama

Sejatinya, ikrar “Jogo Suroboyo” bukanlah langkah yang berdiri sendiri. Sebelumnya, pada 25 Agustus 2025, FPK bersama 27 suku dan etnis sudah menandatangani pernyataan sikap “Surabaya Rumah Kita Bersama” di Gedung Eks Humas Pemkot. Lima komitmen lahir dari pertemuan itu: menolak diskriminasi, meneguhkan semangat kebhinekaan, memperkuat dialog, mendorong gotong royong, dan menjaga Surabaya sebagai rumah bersama.

Kini, dengan ikrar terbuka di Tugu Pahlawan, komitmen itu naik kelas. Dari teks di atas kertas menjadi janji di depan publik. Dari wacana menjadi aksi moral bersama.

Media dan Tanggung Jawab Moral

Di tengah acara, Ketua Umum Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI), Hartanto Boechori, menegaskan pentingnya peran media dalam menjaga kerukunan.

“Surabaya adalah kota dagang terbesar kedua di Indonesia. Penduduknya majemuk, dan justru keberagaman itulah yang menjadikannya kokoh. Namun, semua bisa rapuh bila media tidak berhati-hati. Pemberitaan harus sehat, edukatif, dan menyejukkan, bukan provokatif,” katanya lantang.

Pernyataan itu disambut tepuk tangan. Banyak jurnalis yang hadir tampak mengangguk setuju, seolah sadar bahwa mereka juga punya peran penting menjaga harmoni.

Wali Kota Eri: Surabaya untuk Semua

Puncak acara semakin hangat ketika Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, berdiri di hadapan massa. Dengan suara bergetar penuh semangat, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh suku dan etnis yang hadir.

“Surabaya harus menjadi teladan toleransi di Indonesia. Keberagaman ini bukan masalah, tetapi kekuatan. Mari kita jaga kota ini bersama, agar tetap aman, damai, dan membanggakan. Surabaya bukan hanya untuk orang Jawa, bukan hanya untuk Madura, bukan hanya untuk satu golongan saja. Surabaya adalah untuk semua,” ujarnya disambut sorakan “Hidup Surabaya!” dari kerumunan.

Eri menambahkan, ikrar ini penting diwariskan kepada generasi muda. Anak-anak Surabaya harus tumbuh dengan semangat toleransi, agar mereka bisa melanjutkan perjuangan orang tua mereka menjaga persatuan.

Tugu Pahlawan, Saksi Perjuangan Lama dan Baru

Tak bisa dipungkiri, Tugu Pahlawan dipilih bukan tanpa alasan. Monumen ini pernah menjadi saksi keberanian arek-arek Suroboyo melawan penjajah pada 10 November 1945. Hari itu, Surabaya membuktikan bahwa persatuan bisa mengalahkan kekuatan sebesar apa pun.

Kini, delapan dekade kemudian, generasi baru Surabaya kembali mengikrarkan persatuan. Bedanya, musuh yang mereka hadapi bukan lagi tentara asing, melainkan ancaman perpecahan, intoleransi, dan provokasi.

“Kalau dulu arek Suroboyo berjuang dengan bambu runcing, sekarang kita berjuang dengan hati yang terbuka,” kata Julius Siagian, perwakilan suku Batak yang hadir dengan ulos khas Sumatera Utara.

Akhir yang Hangat, Awal yang Baru

Acara ditutup dengan doa lintas agama. Para pemuka agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu bergantian menyampaikan doa untuk Surabaya. Suasana hening, sakral, sekaligus menyejukkan. Setelah itu, lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan bersama-sama, menggema di bawah langit Surabaya yang mulai temaram.

Namun, bagi warga yang hadir, ikrar ini bukanlah akhir. “Ini awal dari gerakan moral bersama. Kalau Surabaya bisa menjaga kedamaian, kota lain di Indonesia pun pasti bisa,” ujar Ketua FPK Surabaya menutup acara.

Ribuan orang pun bubar dengan wajah cerah. Mereka membawa pulang pesan yang sama: menjaga Surabaya sama artinya menjaga Indonesia.

TIM

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *