Kepedulian Generasi Muda terhadap Sejarah Kesultanan Aceh Dinilai Mulai Menurun

Aceh – Kepedulian masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap sejarah dan warisan Kesultanan Aceh Darussalam dinilai semakin menurun dalam beberapa tahun terakhir. Minimnya perhatian terhadap peninggalan sejarah, tokoh-tokoh kesultanan, hingga garis keturunannya menjadi sorotan berbagai kalangan yang menilai kondisi ini berpotensi mengikis identitas sejarah Aceh.

Pengamat dan tokoh masyarakat menilai bahwa generasi muda saat ini semakin jarang mengenal sejarah panjang kesultanan yang pernah menjadi salah satu pusat peradaban Islam terbesar di kawasan Asia Tenggara. Padahal, keberadaan Kesultanan Aceh Darussalam memiliki kontribusi besar dalam perjalanan sejarah Nusantara, baik dalam bidang politik, perdagangan, maupun perkembangan ilmu pengetahuan.

Salah satu tokoh yang kerap menjadi simbol kejayaan Aceh adalah Sultan Iskandar Muda, yang dikenal berhasil membawa Aceh mencapai puncak kejayaan pada abad ke-17. Di bawah kepemimpinannya, Aceh berkembang sebagai pusat kekuatan maritim sekaligus pusat pendidikan Islam yang berpengaruh di kawasan regional.

Namun dalam perkembangan saat ini, narasi sejarah yang berkembang di tengah masyarakat Aceh dinilai lebih banyak didominasi oleh pembahasan konflik modern, termasuk yang berkaitan dengan Gerakan Aceh Merdeka. Dominasi narasi tersebut dikhawatirkan membuat generasi muda kurang mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai sejarah Aceh yang lebih panjang dan kaya.

Menanggapi hal tersebut, Adi Asmara, Dewan Pembina SADA Jakarta, menilai bahwa perhatian terhadap sejarah kesultanan harus kembali diperkuat agar generasi muda Aceh tidak kehilangan jati diri sejarahnya.

“Generasi muda Aceh hari ini harus kembali melihat sejarahnya secara utuh. Kita memiliki warisan besar dari Kesultanan Aceh Darussalam yang pernah menjadi pusat peradaban Islam dan kekuatan politik di kawasan Asia Tenggara. Jika sejarah ini tidak kita jaga dan pelajari, maka perlahan akan hilang dari ingatan kolektif masyarakat,” ujar Adi dalam keterangannya, Senin.

Menurutnya, narasi sejarah Aceh seharusnya tidak hanya berfokus pada konflik modern, tetapi juga harus menempatkan sejarah kesultanan sebagai fondasi penting dalam membangun identitas daerah.

“Kita tidak boleh membiarkan sejarah Aceh hanya didominasi oleh narasi konflik seperti yang berkaitan dengan Gerakan Aceh Merdeka. Sejarah kesultanan justru menunjukkan bahwa Aceh memiliki tradisi kepemimpinan, peradaban, dan kontribusi besar terhadap Nusantara,” jelasnya.

Adi juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memastikan pelestarian sejarah kesultanan tetap menjadi bagian dari pembangunan budaya di Aceh. Menurutnya, kebijakan pendidikan dan pelestarian situs sejarah perlu diperkuat agar generasi muda memiliki akses yang lebih luas terhadap sejarah daerahnya.

“Pemerintah daerah harus hadir menjaga dan melestarikan warisan sejarah kesultanan. Mulai dari penguatan pendidikan sejarah lokal, pelestarian situs-situs bersejarah, hingga membuka ruang kajian sejarah bagi generasi muda,” katanya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa pelestarian sejarah kesultanan juga memiliki makna strategis dalam memperkuat nilai kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Menjaga sejarah Kesultanan Aceh Darussalam bukan hanya soal nostalgia masa lalu, tetapi juga bagian dari menjaga identitas Aceh dalam kerangka kebangsaan. Warisan sejarah ini harus menjadi sumber kebanggaan sekaligus inspirasi bagi generasi muda untuk membangun Aceh yang lebih baik,” pungkas Adi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *