PPK JIAT Kawal Irigasi Air Tanah: Menghidupkan Sawah, Menguatkan Ekonomi dari Bungus ke Sungai Pisang

PADANG, SUMBAR | Di tengah hamparan lahan pertanian pesisir Kota Padang, dari Bungus hingga Koto Lalang, perubahan perlahan mulai terasa. Tanah yang dulu retak saat kemarau, kini mulai kembali lembap. Harapan yang sempat memudar, kini tumbuh lagi—dibawa oleh hadirnya proyek Pengembangan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dan Air Baku.

Proyek bernilai Rp13.976.074.000 yang bersumber dari APBN tahun jamak 2025–2026 ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Ia adalah jawaban atas kebutuhan dasar petani: air. Dan di balik jalannya proyek ini, peran Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) menjadi penentu arah, memastikan setiap proses berjalan dengan kualitas dan tujuan yang jelas.
Dengan masa pelaksanaan 228 hari kalender sejak kontrak dimulai 15 September 2025, proyek ini menyasar langsung wilayah-wilayah yang selama ini dikenal rawan kekeringan: Bungus Barat 1, Bungus Barat 2, Bungus Barat 3, Bungus Timur, Teluk Kabung 1 dan 2, Sungai Pisang, hingga Koto Lalang.

Di titik-titik inilah, perubahan mulai terlihat.

Air yang Kembali Menghidupkan Sawah

Bagi para petani, air bukan hanya kebutuhan—tetapi penentu hidup. Sebelum proyek ini hadir, sebagian besar lahan di kawasan tersebut hanya mengandalkan hujan.

“Dulu kami cuma bisa tanam sekali setahun. Kalau hujan tak turun, ya habis sudah. Sekarang mulai terasa beda, air sudah mulai ada. Kami jadi lebih optimis,” ujar Yusrizal (52), petani di kawasan Bungus Barat.

Hal serupa juga dirasakan oleh warga lain. Sistem sumur bor dan jaringan distribusi air yang dibangun membuat lahan pertanian memiliki sumber air yang lebih stabil.

“Kalau dulu lihat sawah kering itu biasa, sekarang malah aneh kalau kering. Ini perubahan besar bagi kami. Air itu seperti nyawa bagi petani,” kata Marlina (47), warga Teluk Kabung.

Peran PPK di Balik Jalannya Proyek

Di balik progres pembangunan ini, PPK memegang kendali penting. Tidak hanya memastikan pekerjaan berjalan sesuai jadwal, tetapi juga menjaga kualitas setiap komponen yang dibangun—mulai dari sumur bor hingga jaringan pipa distribusi.

Dalam proyek sebesar ini, dinamika lapangan bukan hal yang asing. Kondisi geografis, cuaca, hingga akses lokasi menjadi tantangan tersendiri. Namun, melalui koordinasi intensif dengan kontraktor PT Brantas Abipraya (Persero) dan pengawasan yang berkelanjutan, setiap tahapan tetap berada dalam jalur perencanaan.

Pendekatan yang dilakukan tidak sekadar mengejar penyelesaian fisik, tetapi memastikan bahwa hasil akhir benar-benar berfungsi dan memberi manfaat jangka panjang. Bahkan, masa pemeliharaan selama 180 hari kalender menjadi bukti keseriusan dalam menjaga kualitas infrastruktur.

Harapan Baru di Setiap Titik Pekerjaan

Di Sungai Pisang, geliat perubahan juga mulai terasa. Saluran air yang mulai terbangun memberi sinyal bahwa masa depan pertanian di kawasan itu akan berbeda.

“Kami sangat berharap ini terus berjalan. Kalau air lancar, kami bisa tanam lebih sering. Anak-anak kami juga bisa ikut bertani tanpa takut gagal,” ungkap Rafli (39), petani muda di Sungai Pisang.

Sementara itu, di Koto Lalang, warga melihat proyek ini sebagai titik balik.

“Ini bukan cuma proyek biasa. Ini seperti membuka jalan baru bagi kami. Dulu banyak lahan terbengkalai, sekarang mulai digarap lagi,” kata Nurhayati (55).

Investasi Nyata untuk Masa Depan

Dengan nilai kontrak hampir Rp14 miliar, proyek ini menjadi salah satu investasi penting dalam pembangunan sektor sumber daya air di Kota Padang. Lebih dari sekadar angka, nilai tersebut diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.

PPK sebagai pengendali kegiatan memastikan bahwa setiap rupiah yang digunakan berorientasi pada hasil. Transparansi, akuntabilitas, dan kualitas menjadi prinsip utama dalam pelaksanaan proyek ini.

Karena pada akhirnya, keberhasilan proyek ini bukan hanya diukur dari progres pekerjaan, tetapi dari sejauh mana air benar-benar mengalir ke sawah, meningkatkan hasil panen, dan mengubah kehidupan petani.

Air, Harapan, dan Masa Depan

Kini, di antara pipa-pipa yang tertanam dan sumur-sumur yang dibangun, tersimpan harapan besar masyarakat. Harapan bahwa mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada hujan. Harapan bahwa pertanian bisa menjadi lebih pasti.

Dan di balik semua itu, peran PPK tetap menjadi kunci—mengawal, memastikan, dan menjaga agar proyek ini tidak hanya selesai, tetapi benar-benar hidup dan memberi manfaat.

Karena ketika air mulai mengalir, bukan hanya sawah yang hidup—tetapi juga harapan.

Wyndoee

 

 

PPK JIAT Padang Buktikan Komitmen: Dari Bungus hingga Koto Lalang, Air Kini Tak Lagi Sekadar Harapan

Air Mengalir, Harapan Tumbuh: Peran PPK JIAT Ubah Wajah Pertanian Kota Padang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *