SUMBAR | Deru mesin alat berat terdengar di salah satu titik Jalan Nasional Padang–Solok, Jumat sore (5/9). Hujan baru saja reda, dan genangan masih tampak di sisi jalan. Di tengah suasana itu, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat, Elsa Putra Friandi, yang akrab disapa Andi, terlihat berdiri memantau perbaikan drainase. Dengan jas hujan sederhana, ia memberi arahan langsung kepada para pekerja dan PPK di lapangan.
“Musuh utama jalan adalah air. Drainase jangan sampai tersumbat, karena begitu air meluap ke badan jalan, kerusakan akan cepat terjadi. Semua PPK harus pastikan jalur ini aman,” tegas Andi.
Komando Besar untuk Jalan Nasional Sepanjang 1.212 Km
Andi memikul tanggung jawab besar. Panjang jalan nasional di Sumatera Barat mencapai 1.212,89 kilometer, lengkap dengan jembatan-jembatan penghubung yang vital bagi mobilitas masyarakat dan distribusi barang. Baginya, jalan bukan hanya infrastruktur keras, tetapi juga urat nadi ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat Minangkabau.
“Kalau jalan nasional putus, ekonomi juga ikut terputus. Anak-anak sekolah terganggu, pasar tradisional sepi, bahkan wisata bisa mati. Karena itu kami tidak bisa main-main dalam pemeliharaan jalan,” ungkapnya.
Sebagai langkah nyata, perbaikan drainase sepanjang 500 meter di Jalan Adinegoro tengah dilakukan dengan anggaran Rp1,7 miliar. Proyek ini dipimpin PPK Zulfikar Kurniawan bersama kontraktor PT Lansano Jaya Mandiri, yang juga mengerjakan perbaikan longsoran di Km 32 Padang–Solok. Menurut Andi, pekerjaan ini hampir rampung, namun pengawasan tetap harus ketat.
PPK dan Kasatker Siaga di Titik Rawan
Dalam rapat koordinasi di lapangan, Andi menyebut nama-nama PPK dan Kasatker satu per satu. Ia ingin memastikan semua tahu tugas dan wilayah tanggung jawabnya.
PPK Ray Novandro ditugaskan menjaga jalur Simpang Lubuk Silasih–perbatasan Kerinci, Jambi, dengan alat berat yang selalu siaga.
PPK Yan Purwandi dan PPK Bahagia diminta fokus ke jalur Padang–Painan–batas Bengkulu.
PPK Dhani Asri bersama Kasatker PJN 2 Mashudi mengendalikan ruas Muaro Kalaban–batas Jambi dan Kiliran Jao–batas Riau.
PPK Rio Andika bersama PT Pebana bertanggung jawab di ruas Bukittinggi–batas Riau yang kerap rusak akibat tonase truk tambang.
PPK Noor Aris Syamsu bersama PT SMS siaga di Padang–Bukittinggi, sementara PPK Efriwandi mengawasi Bukittinggi–batas Sumut (Palupuh).
PPK M Nasir di jalur Simpang Lubuk Alung–Padangsawah, dan PPK Gustaf di jalur Padang–batas Sumut, berada di bawah kendali Kasatker PJN 1 Andi Mulya Rusli.
Akses Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dijaga Kasatker Susi Anas dan PPK Jecky.
“Semua jalur punya tantangan masing-masing. Tapi dengan koordinasi, kita bisa mengatasinya,” ujar Andi sambil menunjuk peta jalan nasional yang dibentangkan di meja darurat.
Tonase Truk Jadi Musuh Kedua
Selain air, Andi menyoroti truk tambang dengan muatan berlebih. Jalur-jalur strategis seperti Bukittinggi–Riau dan Padang–Solok sering kali rusak dalam hitungan bulan akibat dilewati kendaraan dengan tonase yang jauh melampaui aturan.
“Tidak ada jalan yang bisa bertahan kalau dilewati beban berlebih setiap hari. Aturannya jelas, semua pengusaha angkutan harus patuh. Kalau tidak, kita akan terus memperbaiki tanpa henti,” tegasnya.
Dukungan Dishub dan Polda Sumbar
Pernyataan Andi diamini oleh berbagai pihak. Kepala Dinas Perhubungan Sumbar, Dedy Diantolani, menyatakan pihaknya akan memperketat pengawasan terhadap kendaraan angkutan barang.
“Pengusaha angkutan wajib membawa muatan sesuai izin. Ini bukan hanya soal jalan, tapi soal keselamatan semua pengguna,” katanya.
Dari sisi keamanan lalu lintas, Dirlantas Polda Sumbar, Kombes Pol H. M Reza Chairul Akbar Sidiq, SIK, mengimbau pengendara untuk lebih waspada saat melintasi jalur rawan longsor.
“Jadilah polantas bagi diri sendiri. Patuhi aturan, jangan memaksa kendaraan, dan utamakan keselamatan agar bisa sampai ke tujuan,” pesannya.
Suara dari Lapangan: Harapan Warga pada Jalan Nasional
Kebijakan ini disambut positif masyarakat. Andi Saputra, sopir truk lintas Padang–Riau, mengatakan ia sering terjebak macet akibat jalan rusak di daerah perbatasan.
“Kalau jalan cepat ditangani, kami sopir juga lega. Kadang mogok di tengah jalan karena lubang besar, bikin biaya bengkel tambah,” keluhnya.
Hal senada disampaikan Rina (34), pedagang sayur asal Solok. Ia setiap minggu membawa hasil tani ke Padang.
“Kalau jalan mulus, sayur bisa sampai segar di pasar. Kalau macet karena longsor, harga jadi turun. Mudah-mudahan bapak Andi dan tim terus awasi jalan,” ujarnya penuh harap.
Sementara Ridho (17), seorang pelajar di Painan, merasa lebih tenang dengan adanya alat berat siaga di jalur rawan longsor.
“Dulu pernah telat ujian karena jalan putus. Sekarang katanya ada alat berat standby, jadi kami lebih yakin bisa sampai sekolah,” katanya.
Andi: Menjaga Jalan Adalah Menjaga Hidup
Bagi Andi, pemeliharaan jalan bukan hanya soal beton, aspal, atau anggaran. Baginya, jalan adalah urat nadi kehidupan masyarakat Sumbar.
“Jalan yang baik membuat anak-anak bisa sekolah tanpa terlambat, petani bisa membawa hasil panen ke pasar, wisatawan bisa menikmati alam Minang. Jadi menjaga jalan adalah menjaga hidup, menjaga masa depan,” ujarnya penuh keyakinan.
Wyndoee






