Auric Brilliyan, SH : Doa dari Satu Almamater Kampus Merah untuk “Bro DJ” di Momentum Penentuan

PADANG | Di balik suasana kebersamaan yang terasa hangat dan cair, sejumlah advokat Peradi SAI Kota Padang duduk dalam satu ruang yang sama. Tidak ada jarak hierarki, tidak ada sekat senioritas. Yang hadir hanyalah percakapan jujur tentang profesi, organisasi, dan kegelisahan kolektif mengenai masa depan Peradi SAI di tengah tantangan zaman, Sabtu Siang 24 Januari 2026.

Dialog dimulai dari hal-hal ringan, namun perlahan mengarah pada isu-isu substansial. Etika profesi, soliditas organisasi, hingga kebutuhan akan pembaruan dibahas dengan nada tenang namun penuh kesadaran. Tidak ada saling menyalahkan, justru muncul kesepahaman bahwa perubahan hanya mungkin lahir dari keterbukaan.

Meja sederhana tempat diskusi berlangsung menjadi simbol penting. Bahwa organisasi besar tidak selalu dibangun dari forum megah dan pidato panjang, melainkan dari ruang-ruang silaturahmi yang memberi rasa aman bagi setiap suara untuk didengar dan dihargai.

Kebersamaan itu kemudian berlanjut dalam forum yang lebih formal. Suasana berubah, namun semangat yang dibawa tetap sama: membangun Peradi SAI yang lebih solid, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan profesi advokat hari ini dan ke depan.

Dalam suasana tersebut, muncul pandangan bahwa organisasi advokat tidak cukup hanya kuat secara struktur. Ia harus kokoh secara nilai. Marwah profesi, etika, dan profesionalisme menjadi fondasi utama yang tidak boleh ditawar dalam dinamika internal organisasi.

Salah seorang teman satu almamater di kampus merah, Auric Brilliyan, SH., alumni BP 02 Fakultas Hukum Universitas Andalas (Ekstensi), menilai momentum kebersamaan ini sebagai sinyal positif bagi Peradi SAI. Menurutnya, organisasi hanya akan besar jika mampu menyatukan perbedaan dalam satu tujuan bersama.

“Saya mengucapkan yang terbaik untuk bro DJ (Daniel Jusari). Semoga terpilih pada pemilihan kali ini dan mampu membawa Peradi SAI ke arah yang lebih baik. Yang paling penting, kita semua tetap satu barisan demi perubahan,” ujar Auric.

Pernyataan tersebut mencerminkan semangat yang mengemuka dalam pertemuan itu. Perbedaan pandangan tidak diposisikan sebagai ancaman, melainkan sebagai dinamika wajar dalam organisasi yang sehat dan demokratis.

Bagi para peserta, Peradi SAI adalah rumah bersama. Tempat bernaung yang seharusnya memberi rasa aman, ruang bertumbuh, dan kesempatan yang setara bagi setiap anggotanya, tanpa kecuali.

Momentum ini juga dipandang sebagai ruang refleksi kolektif. Bahwa perubahan tidak cukup dijadikan slogan, melainkan harus dijalani sebagai proses bersama yang menuntut kesiapan untuk mendengar, berbenah, dan melangkah seiring.

Tantangan profesi advokat ke depan dinilai semakin kompleks. Integritas, profesionalisme, serta kepercayaan publik menjadi isu yang tidak bisa dihindari. Dalam konteks itu, soliditas internal organisasi menjadi modal utama yang menentukan.

Apa yang terjadi dalam rangkaian kebersamaan ini mungkin tidak selalu terlihat ke luar. Namun justru di ruang-ruang dialog yang sunyi dari hiruk pikuk pencitraan itulah arah organisasi perlahan ditentukan.

Peradi SAI Kota Padang tampak memilih jalan yang tenang namun berakar kuat. Merawat kebersamaan, membuka ruang dialog, dan menumbuhkan kepercayaan dari dalam, sebelum melangkah lebih jauh ke depan.

Bukan sekadar agenda atau seremoni. Ini adalah proses membangun kembali makna berorganisasi di tengah dinamika profesi hukum yang terus berubah.

Dan pada akhirnya, suara-suara yang beragam itu bertemu pada satu kesadaran yang sama: perubahan hanya mungkin terjadi jika dijalani bersama, dengan niat yang jujur dan arah yang jelas.

Satukan suara untuk perubahan.

“KAMPUS MERAH” Jaya, Jaya, Jaya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *